Lelaki Tua dan Seragam


Lelaki Tua dan Seragam

senjaBulan agustus yang dingin, rintik gerimis pertama telah turun, mengguyur jalanan aspal di sepanjang malioboro. Udara dingin mulai menebar aroma debu-debu jalanan yang baru saja tersiram gerimis, meme luk senja yang menyelimuti kota Yogya. Di tempat ini setahun yang lalu Lelaki tua itu masih setia dengan becak tuanya, tubuhnya yang renta tak menyurutkan semangatnya untuk terus mengayuh kendaraan roda ti ga miliknya menyusuri jalanan dan memasuki lorong demi lorong mengantarku berkeliling sepanjang jalan Malioboro. Tak banyak yang tahu siapa sebenarnya dia, dimana tempat tinggalnya, tapi sejauh yang aku ingat saat terakhir kali aku berkunjung kemari, lelaki tua itu selalu mengenakan seragam kebanggaanya lengkap dengan peci dan pin bendera merah putih yang terpasang di samping peci dan di atas saku seragam tua itu.

Hari ini aku sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta ke tempat ini, hanya untuk menemuinya, hanya untuk mendengarkan cerita-ceritanya sambil berkeliling kota Yogya menggunakan becak tua miliknya. Setahun yang lalu saat aku sedang bingung-bingungnya mencari bahan untuk skripsiku, tak sengaja aku bertemu denganya.

“Mau kemana Dik, mari Saya antar, Cuma lima ribu saja” sapa lelaki tua itu dengan ramah menawarkan jasanya.

“ Maaf pak, terima kasih, Saya Cuma ingin jalan-jalan saja” jawabku menolak tawaran tersebut.

“Jalan-jalanya kan lebih enak naik becak Dik, Cuma sepuluh ribu kok, ndak mahal kan? Saya anterin kemanapun Adik mau” katanya lagi sedikit menawar, lho, biasanya orang menawar semakin murah ini kok malah sebaliknya.

“Lho, Pak,,ndak salah,,, tadi katanya lima ribu kok sekarang malah semakin mahal” jawabku sedikit berargumen.

“Iya, Dik,,,tapi masa Adik tega sama orang tua seperti saya Cuma bayar lima ribu…”

Jawabanya yang polos itu tak membuat aku heran, mungkin karena usianya yang boleh dibilang sudah memasuki masa-masa senja, seperti senja saat ini yang hampir menuju malam. Sehingga membuat ingatanya tidak konsisiten lagi dengan apa yang dikatakanya lima menit yang lalu. Namun dibalik semua itu lelaki tua itu memang lain dengan rekan-rekanya sesama tukang becak yang mangkal di ujung jalan Malioboro ini. Selain usianya yang tidak wajar sebagai seorang yang berprofesi menarik becak, juga ada sesuatu yang membuat aku geli melihatnya, yaitu pakaianya. Tadinya aku kira dia salah satu orang yang kurang beres pikiranya, masa, narik becak pakaianya seperti pejuang kemerdekaan di zaman revolusi. Tetapi setelah mendengar gaya bicaranya aku jadi semakin tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh.

“Ya sudah kalau begitu Pak, bagaimana kalau kita keliling Malioboro?” Jawabku menawarkan diri untuk memakai jasanya mengantarku berkeliling, siapa tahu aku dapat ide untuk skripsiku.

“Wah,,,terima kasih Dik, akhirnya ada juga penumpang hari ini” jawabnya dengan senang sambil memundurkan becaknya dan mendorongnya ke arahku.

“Ayo,,,silahkan naik Dik”

“ Iya Pak,,tapi jangan ngebut yah, biar lebih menikmati perjalananya” kataku sambil meletakan tubuhku di jok yang agak sedikit sobek. Lelaki tua itupun mulai mengayuh becaknya menyusuri jalanan sepanjang Malioboro.

Senja di Malioboro, diwarnai rintik gerimis yang amat tipis namun hawa dinginya mampu menembus pori-pori kulitku. Kota Yogya yang biasanya panas kini berubah menjadi amat dingin, seniman-seniman jalanan dan pedagang-pedagang kaki lima mulai nampak bermunculan menyambut malam di Malioboro. Seperti biasa, mereka mempersiapkan diri masing-masing untuk memeriahkan suasana malam di sepanjang jalan, yang sebentar lagi dipenuhi para pengunjung baik yang dari dalam kota maupun luar kota bahkan turis dari luar negeri yang sengaja datang ke jalanan ini hanya untuk mencari barang-barang bernilai seni khas Yogya.

Gerimis tipis ini tak menyurutkan semangat Pak tua untuk mengayuh becaknya, aku sendiri bahkan tak tega melihatnya berbasah-basah hanya untuk mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Seandainya Dia mau, aku lebih baik menyerahkan uang ini saja padanya, tanpa harus menaiki becaknya. Namun Ia berkeras tak mau menerima pemberian uang tanpa melakukan apa-apa. Sebuah prinsip hidup yang layak ditiru.

“Bapak tidak apa-apa hujan-hujanan begini?” Sapaku memecah keheningan.

“Ah, ndak apa-apa Dik…hujan begini sudah biasa buat saya, yang penting bukan hujan mortir Belanda” Jawabnya dengan nada bercanda, membuatku agak heran, kenapa lelaki tua ini tiba-tiba bicara masalah mortir Belanda. Bukankah kita sudah lebih dari setengah abad bebas dari penjajah Belanda, masih ada saja orang yang takut kalau-kalau Belanda menjatuhkan mortir lagi ke Negara ini.

“Lho,,,memangnya kenapa kalau hujan mortir Pak?” selidikku.

“He…he..he..he…” Ia pun terkekeh mendengar pertanyaanku, entah apa yang salah dengan kata-kataku sehingga membuatnya tertawa seperti itu.

“Lho,,kok malah ketawa Pak, memang ada yang lucu yah?”

“He…he..he…Kamu yang lucu, Le..Le..kalau ada hujan mortir ya pasti mati kita” jawabnya masih dengan terkekeh, aku menengok ke arahnya melalui tirai yang ada di belakang sandaran jok. Wajahnya yang keriput itu semakin keriput terkena hawa dingin akibat gerimis yang membasahi sekujur tubuhnya. Aku semakin tak tega melihatnya namun apa boleh buat, Dia sendiri yang berkeras untuk melakukan pekerjaan ini. Ah, biarlah lagipula aku juga bisa lebih mencari tahu kenapa Dia berpakaian seperti pejuang, atau memang Dia memang seorang mantan pejuang? Akh, masa mantan pejuang narik becak, temanku saja yang kakeknya mantan pejuang sekarang hidupnya enak, terima tunjangan Veteran dari negara setiap bulan.

“Oh,iya Pak..boleh saya bertanya sesuatu?” Tanyaku pada lelaki tua itu.

“Ya boleh Dik,,masa nanya saja nggak boleh” jawabnya. “Mau nanya apa tho Dik?”

“Baju yang Bapak pakai itu apa milik Bapak sendiri..?” lelaki tua itu terdiam sejenak, seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkanya untuk menjawab pertanyaanku tadi. Diam-diam aku mengintip ke arahnya, entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu, sepintas aku melihat rona kesedihan menyeruak dari wajah renta di belakangku.

“ Tentang siapa pemilik baju ini ya dik…” terdengar suara lirih dari lelaki itu.

“ Iya pak…bisa bapak jelaskan kenapa bapak memakai seragam itu untuk narik becak? Apa dulu Bapak sendiri seorang pejuang?” sahutku.

“ Ah..itu tidak penting dik..Bapak memang dulu seorang pejuang, pernah ikut bergerilya bersama Pak Dirman*, bahkan Bapak pernah ikut menggotong tandu Pak Dirman keluar masuk hutan, dikejar-kejar Belanda sampai berbulan-bulan” kenang Lelaki itu, sambil memelankan laju becak tuanya karena sebentar lagi akan melintasi perempatan jalan, sambil mendengarkan ceritanya aku mengikuti saja kemana Pak tua ini akan mengayauh becaknya.

“ Lho..Bapak tidak seharusnya menjadi penarik becak seperti ini dong..Menurut saya Bapak harus mendapatkan kehidupan yang layak, seperti para mantan pejuang yang lain, kenapa Bapak malah bekerja seperti ini? Terus keluarga Bapak ada dimana?” tanyaku, Lelaki tua itu kembali terdiam entah karena pertanyaanku, atau karena sebuah sedan berpelat nomor merah yang tiba-tiba menyalip becak kami dengan kecepatan tinggi, dan menyumbangkan cipratan air kearah becak kami.

“Siallll..!”, gumamku “ benar-benar tak punya sopan santun, padahal seharusnya pegawai negeri seperti dia harus lebih menghormati kami rakyat kecil..karena dengan pajak kamilah mereka dibayar”

Mobil itu berlalu begitu saja tanpa peduli apa yang telah dilakukanya. Kulihat Pak tua hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku para abdi negara yang arogan itu. Padahal sebagai abdi negara Bapak tua ini lebih tahu bagaimana caranya mengabdi pada negara, bahkan orang-orang seperti Pak tua ini rela menyumbangkan harta dan nyawanya demi negara yang mereka cintai.

“ Oh ya, Bapak belum menjawab pertanyaanku tadi..dimana keluarga Bapak tinggal?”

“ Ahh..adik ini..kalau Bapak punya anak pasti ndak mungkin kerja seperti ini.. “ jawabnya singkat, hatiku terenyuh mendengar pengakuan Lelaki tua ini. Dia tidak punya anak? Setua ini, Ya Alloh, malang sekali nasib Pak tua ini..padahal jika ceritanya itu benar, sungguh besar jasanya pada negara ini, tapi kenapa dia harus menjalani kehidupan seperti ini? Ditengah-tengah para penguasa negeri ini yang sedang saling hujat berebut kekuasaan.

“ Lalu..dimana isteri Bapak? Atau saudara-saudara Bapak yang lain?”

“ Bapak hidup sendiri sejak isteri Bapak meninggal ketika Belanda datang ke sini untuk yang ke tiga kalinya, waktu itu tepat di depan kantor pos itu..” Lelaki tua itu menunjuk kearah gedung tua yang sekarang menjadi Kantor pos Yogyakarta, tempat yang kebetulan sedang kami lewati.

“..Ketika pesawat-pesawat belanda menjatuhkan mortir di sini, Sulasni isteri Bapak sedang berjualan nasi di depan gedung itu..serpihan mortir itu mengenai tubuhnya, Bapak yang sedang dalam perjalanan kembali ke Yogya bersama rombongan Pak Dirman, Cuma dikasih kabar bahwa Sulasni meninggal karena terkena mortir belanda…” ceritanya terhenti sejenak saat kami sampai tepat di depan Kantor pos yang dahulu pernah di bombardir oleh belanda, saat agresi militernya yang kedua setelah belanda menghianati perundingan Linggar jati, dan kembali menurunkan pasukanya di Yogyakarta yang saat itu menjadi Ibukota Republik.

Lelaki tua itu turun dari becaknya dan menuju ke salah satu sudut tempat itu, sambil menunjukan padaku sebuah titik.

“..di sinilah dik..Isteri Bapak meninggal, dan disini pulalah Bapak bersama ratusan rakyat Yogya berjuang merebut kembali Kota Yogya yang dikuasai oleh Belanda waktu itu” dengan suara yang berat Bapak tua itu menjelaskan padaku keping-keping sejarah yang masih tersisa dalm memorinya.

“ Dan disepanjang jalan yang kita lalui tadi sampai ke sana..” sambil menunjuk tempat yang sekarang sudah berubah menjadi monumen, untuk mengenang perjuangan rakyat Yogya.

“..mayat-mayat rakyat Yogya yang gugur, bergelimpangan di sepanjang jalan..” kurasakan semangat yang membara pada diri Bapak tua ini, saat menceritakan peristiwa puluhan tahun yang lalu. Yang mungkin telah menjadi bagian dari kenangan yang tak terlupakan bagi lelaki tua yang malang ini.

“Terus bagaimana dengan saudara-saudara Bapak, apa mereka masih ada?” selaku.

“ Mereka ikut gugur disini Dik…tiga orang saudara Bapak ikut berjuang melawan Belanda, dan semuanya gugur, Cuma Bapak yang masih hidup sampai sekarang, jika ingat itu semua rasanya Bapak benar-benar tak seberuntung mereka yang gugur di medan perang”

“Lho seharusnya Bapak bersyukur dong masih diberi kesempatan hidup”

“Untuk apa Dik…? Untuk menjadi seorang tukang becak seperti ini? Dan jadi orang terlantar di hari tua?..ha..ha..kalau boleh memilih rasanya Bapak memilih mati di medan perang saja Dik” jawabnya sambil tertawa seolah menertawakan nasibnya sekarang yang memang sangat jauh dari kenyataan yang seharusnya diterima oleh orang yang telah menyumbangkan segalanya demi kemerdekaan Negerinya.

Aku termenung sebentar, memikirkan bagaimana nasib Bapak ini selanjutnya jika sudah tak mampu lagi mengayuh becak ini, jika kakinya bahkan tak kuat lagi untuk menopang tubuhnya, jika waktu benar-benar telah menggerogoti tubuhnya yang semakin renta. Siapa yang akan peduli dengan orang tua yang sakit-sakitan seperti dia nantinya? Anak, isteri, bahkan keluarga terdekatpun dia tak punya, akankah Pemerintah Negeri ini mampu melindungi dan menjamin kehidupan orang-orang seperti Bapak? Ahh…rasanya aku ragu, buktinya selama ini Bapak tua ini hanya hidup dari hasil keringatnya sendiri tanpa bantuan dari Pemerintah. Atau mungkin hanya karena nasibnya yang tak seberuntung para mantan pejuang lainya yang bisa merasakan nikmatnya sedikit tunjangan dari Pemerintah? Memikirkan itu semua ingin rasanya Aku mengajak Bapak ini pulang dan tinggal bersamaku, tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya seorang Mahasiswa yang mengandalkan uang kiriman dari orang tua untuk biaya sehari-hari, bagaimana mungkin aku bisa membantu Bapak ini.

“Sudah cukup sore Dik sebentar lagi maghrib..bagaimana kalau kita mampir ke masjid dulu untuk Sholat? Adik muslim kan?” Katanya tiba-tiba, menyadarkanku dari lamunan.

“Oh..iya Pak..saya muslim” jawabku.

“kalau begitu ayo adik naik lagi ke Becak, kita Sholat di masjid Agung di depan sana”

“Baiklah kalau begitu..”

Kamipun segera naik ke becak lagi, dan setelah mendorong becaknya beberapa meter, Lelaki tua itupun kembali mengayuh becaknya ke arah Masjid Agung Keraton Yogya, gerimis masih membasahi jalanan sepanjang Kota Yogya, rumah-rumah, gedung-gedung, tenda-tenda makanan di pinggiran jalan terlihat basah oleh air hujan. Dan tak terasa baju kami pun ikut basah oleh gerimis di senja ini.

Aku melanjutkan langkahku untuk mencari Lelaki tua yang setahun lalu mengantarku berkeliling naik becak tuanya, sambil menceritakan padaku sebuah kisah yang sangat menyentuh hatiku, dan dari cerita-ceritanya itulah aku dapat menyelesaikan skripsiku tahun lalu. Sekarang aku telah lulus kuliah dan mendirikan sebuah Lembaga Sosial Masyarakat yang melayani mantan-mantan pejuang kemerdekaan yang kehidupanya kurang beruntung, dan terabaikan oleh pemerintah. Yah, LSM ini aku dirikan karena terinspirasi oleh cerita dari seorang Lelaki tua yang aku temui di jalanan ini setahun yang lalu, Lelaki yang bahkan aku lupa untuk menanyakan siapa namanya waktu itu.

Aku terus menyusuri jalanan ini, setiap orang yang berada dipinggir jalan baik itu tukang becak ataupun pedagang kaki lima, aku tanya semua tentang keberadaan lelaki yang suka mengenakan seragam Veteran itu. Namun tak ada seorangpun yang tahu dimana keberadaanya, tapi aku harus menemukanya, dimanapun Ia berada, karena cerita-ceritanyalah aku dapat melakukan perbuatan yang ingin sekali aku lakukan setahun yang lalu, tapi belum dapat aku lakukan pada orang yang pertama kali ingin sekali kulakukan perbuatan ini padanya. Sekarang aku benar-benar harus mencarinya dimanapun Ia berada. Namun gerimis senja ini semakin lebat, mungkin tak lama lagi akan berubah menjadi hujan yang mengguyur seluruh kota ini. Di manakah lelaki tua itu berada? Mungkinkah Ia memang telah menghilang seperti debu-debu jalanan ini yang lenyap di guyur gerimis yang memang benar-benar telah berubah menjadi hujan yang deras di senja ini.

Yogyakarta, Agustus 2008

Profil Penulis

Arie S bektie

Penulis tinggal di Bekasi, Bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan swasta asing, menulis cerpen dan novel hanya sebagai hobi dan alat untuk menyalurkan suara hatiny

2 Tanggapan

  1. Pagi…
    Saya mau tanya, apakah cerita diatas itu nyata atau fiksi?
    Karena saya pernah menjumpai Bapak seperti cerita Anda diatas, tapi di kota Bandung.

    Saya selama ini juga berusaha mencari Bapak itu kembali, tapi tidak pernah ketemu di kota Bandung.
    Btw, nice share…saat itu saya hanya berpapasan dengan Bapak itu karena mobil yang saya naiki berlawanan arah dengan becak yang Bapak itu bawa.
    Kejadiannya setahun lalu, tapi bayangan Bapak itu tdk pernah hilang dari hati saya.

    Terima kasih…

    • cerita diatas adalah kisah nyata, dari seorang teman. memang dijaman sekarang masih banyak kita temukan hal2 seperti itu. teman saya sekarang ini sedang berusaha memperjuangkan nasib mereka melalui yayasan yg didirikanya. terima kasih sudah sempat mampir kesini.
      maaf blog saya jarang di update, mudah2an tulisan sy dpt menginspirasi anda. salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: