Balada Nenek Minah:..”tiga biji kakau diantara cicak dan buaya”


Judul diatas mungkin agak sedikit membingungkan. Ini hanya pandangan dari saya pribadi melihat sebuah ironi dari penerapan hukum di  Indonesia. Kisah ini berawal dari seorang nenek tua bernama Minah yang kebetulan satu kampung dengan saya, yaitu desa  Darma Keradenan kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Hanya karena tiga buah kakao yang secara iseng dipetik oleh sang nenek dari perkebunan milik PT Rantan Sari Asih. sang nenek pun harus duduk di kursi panas pengadilan negeri Purwokerto menjadi terdakwa kasus pencurian.

Miris memang, namun itulah ironi hukum di negeri  ini. Ditengah berlarut-larutnya kasus KPK vs POLRI. Dan masih berkeliaranya para koruptor2 yang telah semena-mena membawa kabur uang rakyat ke luar negeri. Tentu saja dimeja hijaukanya seorang nenek tua, yang tak mengerti apa-apa tentang hukum, hanya karena mengambil tiga buah kakau, sangat-sangat melukai hati banyak orang. Apalagi sang nenek disidang tanpa didampingi seorangpun pengacara. Sementara para koruptor itu duduk nyaman dirumah atau pura-pura sakit dan pengacara-pengacara merekalah yang akan hadir di persidangan.

Hukum memang harus ditegakkan, namun bukan hanya kepada rakyat jelata seperti nenek Minah ini. Hukum haruslah mencakup semua kalangan. Dari yang duduk paling atas hingga yang paling bawah. Hokum juga tak mengenal seberapa penting orang tersebut. Jika bersalah, tetaplah harus diadili. Nenek Minah telah memberi contoh, bagaimana seorang rakyat jelata yang patuh terhadap hokum. Dia mengaku bersalah dan telah meminta maaf pada pihak yang terkait, namun dia pun tak keberatan kasusnya di meja hijaukan. Dengan tanpa didampingi pengacara. Sang nenek pun dengan berani melakukan pembelaan pada dirinya ssendiri. Dan dengan berani telah menerima putusan hakim dan tuntutan jaksa. Sang nenek telah member pelajaran berharga kepada seluruh rakyat dinegeri ini.

Tak heran jika Sang Hakim pun terharu dengan kepolosan dan ketegaran Sang nenek. Dan Hakim pun tersedu saat membacakan putusan hukum terhadap sang Nenek. (arie)

2 Tanggapan

  1. Salut buat sang Nenek, mau memberi contoh sadar hukum buat rakyat Indonesia.

  2. Negeri ini memang selalu penuh ironi. Salah satu contoh terbaru adalah bagaimana para ‘pencuri’ kelas teri mendapat hukuman yang kurang setimpal dengan perbuatannya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para pencuri ‘koruptor’ kelas kakap yang banyak menghilangkan miliaran uang rakyat.
    Sungguh sebuah fakta yang menyesakan dada. Mudah-mudahan di kemudian hari hal seperti tidak terjadi lagi. Hukuman harus diberikan dengan seadil-adilnya, sesuai dengan beratnya kesalahan yang dilakukan.
    Cara Membuat Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: